Di balik ketenangan yang tampak di Tunisia, ketidakpuasan masyarakat terus berkembang. Represi yang meningkat, penurunan ekonomi, serta layanan publik yang memburuk menjadi pemicu utama kemarahan yang belum meledak ke permukaan.
Pemerintah Tunisia telah menerapkan berbagai langkah untuk menjaga ketertiban, termasuk pembatasan terhadap kebebasan berekspresi. Akibatnya, ruang untuk kritik publik semakin sempit. Masyarakat merasa tidak dapat menyuarakan keluhan secara terbuka tanpa risiko.
Kondisi ekonomi yang memburuk memperparah situasi. Inflasi yang tinggi dan pengangguran yang meluas membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Layanan kesehatan dan pendidikan pun mengalami penurunan kualitas yang signifikan.
Salah satu konteks penting yang perlu diperhatikan adalah warisan revolusi 2011. Meskipun Tunisia dikenal sebagai satu-satunya negara Arab Spring yang berhasil membangun sistem demokrasi, banyak pencapaian tersebut kini terancam oleh kebijakan yang lebih otoriter.
Selain itu, dampak terhadap generasi muda sangat terasa. Mereka yang lahir setelah revolusi menghadapi prospek ekonomi yang lebih buruk dibandingkan orang tua mereka, sehingga potensi ketidakpuasan jangka panjang semakin besar.
Pengamat menilai bahwa jika kondisi ini terus berlanjut tanpa perbaikan, risiko ketidakstabilan sosial di masa depan tidak dapat diabaikan. Stabilitas semu yang ada saat ini hanya menunda, bukan menyelesaikan, akar permasalahan yang ada.
